Mengenal Peer-to-Peer (P2P) Lending

Lusiana Darmawan, S.Kom, CISA, CFP® | @lusianadarmawan

5 Mins Read


Sejak diperkenalkan di Indonesia di tahun 2015, masyarakat Indonesia mulai familiar dengan istilah Peer-to-Peer Lending (P2P Lending). Belakangan, muncul istilah pinjaman online alias ‘pinjol’. Satu dan lain hal, istilah pinjol ini lekat dengan konotasi negatif akibat maraknya kasus pinjol ilegal.

Namun, sebelum kita menyimpulkan kelebihan dan kekurangan P2P Lending sebagai alternatif investasi sekaligus pendanaan, yuk kita tinjau dulu fitur dan risikonya.

 

Jadi, sebenarnya apa sih P2P Lending itu?

Merujuk ke Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 77/POJK.01/2016, P2P Lending disebut sebagai Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi.

Menurut POJK:

Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi adalah penyelenggaraan layanan jasa keuangan untuk mempertemukan pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman dalam rangka melakukan perjanjian pinjam meminjam dalam mata uang rupiah secara langsung melalui sistem elektronik dengan menggunakan jaringan internet.”

Hingga 10 Juni 2021, terdapat 149 perusahaan penyelenggara P2P Lending yang terdaftar dan berizin di OJK. Daftar selengkapnya dapat dilihat di tautan ini

Selanjutnya, kita perlu mengenal istilah-istilah yang terkait P2P Lending, yakni:

  1. Pemberi Pinjaman/Lender orang, badan hukum, dan/atau badan usaha yang mempunyai piutang karena perjanjian Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.
  2. Penerima Pinjaman/Borrowerorang dan/atau badan hukum yang mempunyai utang karena perjanjian Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.
  3. Penyelenggara Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi/Penyelenggara P2P – badan hukum Indonesia yang menyediakan, mengelola, dan mengoperasikan Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.

Dengan kata lain, Penyelenggara P2P bertindak sebagai pihak yang mempertemukan Lender yang memiliki kelebihan dana, dengan Borrower yang membutuhkan dana, secara online melalui suatu aplikasi P2P. Sederhananya, aplikasi P2P bisa diibaratkan seperti marketplace yang mempertemukan Penjual dan Pembeli, namun untuk kegiatan pinjam-meminjam uang.

 

Keuntungan dan Risiko Lender P2P Lending:

(+) Imbal hasil yang lebih tinggi, jika dibandingkan bunga produk perbankan seperti tabungan dan deposito.

(+) Modal investasi yang relatif kecil, mulai dari Rp100 ribu.

(-) Risiko gagal bayar sehingga Lender kehilangan pokok pinjaman atau dikembalikan dalam persentase tertentu jika pinjaman dilindungi asuransi.

(-) Dana tidak likuid dan tidak bisa diambil sewaktu-waktu.

Keuntungan dan Risiko Borrower P2P Lending:

(+) Persyaratan yang relatif sederhana, dengan biaya yang lebih rendah jika dibandingkan dengan pinjaman melalui perbankan atau lembaga pembiayaan.

(+) Waktu proses pengajuan pinjaman relatif lebih cepat tanpa perlu datang secara fisik ke kantor penyelenggara.

(-) Adanya biaya dan bunga pinjaman yang berjalan jika menunggak pembayaran.

(-) Risiko jaminan disita hingga risiko hukum jika lalai dalam melakukan pengembalian pinjaman sesuai perjanjian.

 

Lalu bagaimana caranya jika saya tertarik untuk menjadi Lender atau Borrower? Apakah alternatif investasi ini cocok untuk tujuan keuangan saya? Jawabannya dapat ditemukan pada artikel selanjutnya.