January Effect

Imelda Tarigan, DRA, PSY, MBA, CFP® | @imelda.t

5 Mins Read


Di penghujung tahun 2020 dan di awal tahun 2021 ini, kita sering mendengar istilah January Effect atau Efek Januari dalam konteks transaksi jual beli saham di pasar modal.  Mungkin banyak pembaca yang bertanya, apakah January effect itu?

January effect itu semacam kepercayaan atau mitos yang meyakini bahwa pada bulan Januari harga saham akan naik, sehingga membukukan keuntungan. Dari mana datangnya mitos seperti itu?

Konsep tentang January effect ini diperkenalkan oleh seorang banker dari Washington bernama Sidney Wachtel pada tahun 1942. Ia memperhatikan data bahwa di bursa efek Amerika ada kecenderungan setiap Januari indeks sahamnya naik. Dugaan penyebabnya diperkirakan pada waktu itu adalah kebiasaan investor untuk berinvestasi di awal tahun dengan harapan sepanjang tahunnya peruntungan akan bagus. Ada juga dugaan, bahwa kebiasaan ini terkait dengan upaya untuk memanipulasi laporan pajak, di mana di akhir tahun semua aset sahamnya dijual lalu dibeli lagi di awal tahun.

Bagaimana dengan situasi di Indonesia, apakah kebiasaan itu juga berlaku di sini? Situasi di Indonesia sepertinya tidak terlalu relevan dengan mitos January effect itu. Di bawah ini grafik pergerakan harga IHSG pada akhir Desember dan akhir Januari selama 30 tahun sejak 1991 hingga 2020.

Sumber : diolah dari bigalpha.id

Terlihat bahwa ada 10 tahun  IHSG membukukan angka negatif (tanda merah pada grafik perubahan), artinya terjadi penurunan harga pada akhir Januari dibandingkan dengan harga di akhir Desember. Kondisi di Indonesia menunjukkan bahwa investor cenderung mengambil keputusan untuk investasi di bulan Januari berdasarkan pada analisis bisnis semata. Ada tahun-tahun saat investor mempersepsi kinerja emiten sepanjang tahun sebelumnya cukup baik, sehingga investor membeli saham lebih banyak dengan harapan ketika laporan keuangan yang mengindikasikan kinerja positif itu terbit di bulan Februari atau Maret, maka investor sudah memiliki sahamnya dan sudah dapat menantikan pembagian dividen.

Layaknya realitas dalam dunia usaha, maka tidak setiap tahun bisnis akan baik, ada tahun-tahun di mana kinerja usaha sedang kurang cemerlang. Di saat itu, investor akan mempersepsi bahwa kinerja tahun sebelumnya menurun, sehingga investor cenderung untuk menjual sahamnya di bulan Januari. Tentu saja banyak faktor lain yang menjadi penyebab gejolak harga saham, situasi atau isu yang berkembang pada momen-momen pergantian tahun atau dalam waktu sekitar Januari itu juga tentu saja berpengaruh banyak pada harga saham. Pada masa kini, di mana era digital membuat penyampaian informasi menjadi sangat cepat, maka volatilitas harga saham pun tidak dapat dihindarkan. Gejolak saham identik dengan gejolak informasi. Oleh karena itu, dari waktu ke waktu, kemungkinan besar January effect dengan sendirinya juga akan menjadi semakin kurang relevan, karena pertimbangan bisnis para investor tentu saja lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan informasi aktual, dari pada sekedar pola kebiasaan.

Jadi apakah Anda akan membeli atau menjual saham di bulan Januari? Pastikan semua keputusan investasi dilakukan setelah melakukan analisis yang memadai. Anda juga bisa melakukan simulasi investasi di kalkulator ini.