3 Hal Penting Saat Menyisihkan
Dana Pensiun Supaya Masa Tua Bahagia Sejahtera

Mohamad Andoko, MM, CFP, QWP, AEPP | @andokomohamad

10 Mins Read


 

“Jika dikumpulkan setiap bulan, lama kelamaan dana pensiun yang Anda sisihkan akan menjadi banyak, akan tetapi pertanyaan selanjutnya yang mungkin muncul adalah : Apakah dana pensiun Anda sudah cukup ? Buat Anda yang berstatus pegawai swasta perlu lebih waspada, apa pasal?  karena pegawai swasta yang mendapat gaji bulanan boleh jadi hanya memperoleh uang pensiun sebanyak 32,2 kali gaji terakhir. Artinya, dengan gaya hidup yang sama maka dana itu hanya cukup sampai dengan tiga tahun ke depan.“

 

 

Saya menilai iuran jaminan pensiun yang disediakan untuk Anda nikmati masih sangat kurang, alasannya karena sebagai pakar keuangan, saya  kerap menemukan kasus di mana pekerja kelimpungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya meski ada sokongan dana pensiun dari kantor.

Sebagai contoh misalnya begini, seorang pegawai swasta rata-rata mendapatkan uang pensiun 32,2 kali lebih besar dari gaji selepas keluar dari perusahaannya. Artinya, dengan asumsi gaya hidup yang masih sama, pensiunan bisa memenuhi kebutuhannya hampir selama tiga tahun. Hanya saja, ini tak bisa memenuhi kebutuhan pensiunan hingga akhir hayat.

Coba kita amati, saat ini rata-rata usia pensiun mencapai 60 tahun, sementara angka harapan hidup Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) adalah 71,06 tahun. Sehingga, jika hal-hal lain dianggap konstan, maka dana pensiun hanya bisa menghidupi pensiunan hingga usia 63 tahun saja. Artinya, diperlukan sokongan dana lain untuk menghidupi pensiunan sampai delapan tahun hingga menginjak usia 71 tahun.

 

Jadi, bagaimana sebaiknya Anda menyiapkan dana pensiun agar tak miskin sampai tua ? Simak 3 hal penting yang menurut saya wajib disiapkan saat menyisihkan dana pensiun supaya masa tua bahagia dan sejahtera.

  1. Memutuskan untuk menambah sendiri dana pensiun di luar yang sudah disiapkan kantor.Saat ini ada produk Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) dan asuransi. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. DPLK memiliki aturan main begini : sebagian iuran diambil tunai sementara sisanya diambil bulanan. Jadi jika iuran yang tersimpan sebesar Rp 1 miliar, maka DPLK yang bisa diambil secara tunai hanya Rp 625 juta. Sisanya, diambil tiap bulan. Skema ini mungkin kurang menarik, jika dana pensiun ingin digunakan sebagai modal usaha.
    Asuransi kesehatan berguna untuk menanggung masalah-masalah kesehatan yang kerap muncul saat usia makin menua. Apalagi, salah satu pos pengeluaran yang terbesar nantinya adalah urusan kesehatan. Pilihannya adalah BPJS Kesehatan atau Asuransi Kesehatan Umum dengan segala plus minusnya. BPJS Kesehatan memiliki kelemahannya karena akses kesehatan harus melalui rumah sakit atau pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang menjadi mitra BPJS Kesehatan. Repotnya jika pensiunan punya penyakit yang butuh dokter spesialis. Lain halnya dengan Asuransi Kesehatan umum yang lebih luas menjangkau dokter spesialis dan rumah sakit yang lebih baik.
    Dengan uang DPLK, pensiunan bisa memproteksi aset yang dimiliki serta bisa memutar dana tersebut ke dalam bentuk investasi. Sementara itu, asuransi digunakan untuk menutupi biaya kesehatan yang nanti akan timbul di masa depan. Ini juga sebagai langkah lain untuk melindungi aset hasil jerih payah selama berpuluh-puluh tahun di masa depan.
  2. Memulai investasi secara mandiri DPLK dan Asuransi sejak awal masa kerja.Uang pensiun dapat maksimal, tergantung waktu permulaan pembayaran iuran. DPLK dan asuransi sebaiknya mulai ditabung sejak awal masa kerja. Untuk DPLK, iuran sebesar 10 persen dari pendapatan per bulan saja sudah cukup. Banyak yang memulai asuransi di saat sudah berkeluarga, ini sangat disayangkan karena akan terlambat jadinya jika critical illness muncul di awal. Penolakan aplikasi asuransi bisa saja terjadi seandainya masuk asuransi di usia pensiun. Memilih produk DPLK cukup mudah, pilih saja DPLK dari lembaga keuangan yang memiliki banyak nasabah. Setelah itu, pilih besaran potongan iuran gaji untuk dana pensiun. Jika masih bingung, Anda dapat berkonsultasi kepada perencana keuangan di OneShildt Financial Planning. Umumnya, besaran potongan gaji per bulan DPLK harus disesuaikan dengan jumlah pengeluaran atau konsumsi per bulan saat memasuki masa pensiun.
  3. Konsisten melakukan investasi sampai dengan waktu yang telah disepakati.
    Kenaikan gaji harus disertai dengan konsistensi pembayaran iuran agar dana pensiun bisa optimal. Karena harga kebutuhan hidup akan naik seiring dengan kenaikan laju inflasi. Oleh sebab itu konsistensi pembayaran iuran juga penting bagi Anda yang memutuskan untuk menyisihkan dana pensiun.